Keberlanjutan dalam konstruksi tidak hanya ditentukan oleh desain bangunan atau teknologi di lapangan, tetapi juga oleh cara material dan jasa diperoleh. Di sinilah konsep green procurement dalam konstruksi memainkan peran penting.
Green procurement adalah pendekatan pengadaan yang mempertimbangkan dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi dari setiap material, peralatan, dan jasa yang digunakan dalam proyek konstruksi. Strategi ini membantu menekan emisi karbon sejak tahap awal proyek.
Fakta dan Data Terbaru
Menurut United Nations Environment Programme (UNEP), lebih dari 60% dampak lingkungan proyek konstruksi berasal dari tahap hulu, yaitu pengadaan material dan logistik. Dengan menerapkan green procurement dalam konstruksi, emisi karbon rantai pasok dapat ditekan hingga 20–30%.
Di Indonesia, prinsip pengadaan hijau mulai diterapkan pada proyek pemerintah, kawasan industri hijau, dan pembangunan gedung berstandar green building sebagai bagian dari kebijakan pembangunan berkelanjutan.
(Sumber: UNEP – Sustainable Public Procurement)
Mengapa Green Procurement Penting dalam Konstruksi
Penerapan green procurement dalam konstruksi memberikan manfaat strategis:
- Pengurangan Jejak Karbon Proyek
Material rendah emisi dan pemasok lokal mengurangi emisi transportasi. - Kualitas Material Lebih Terjamin
Produk bersertifikasi lingkungan umumnya memiliki standar mutu tinggi. - Efisiensi Biaya Jangka Panjang
Material berkelanjutan cenderung lebih awet dan minim perawatan. - Dukungan Regulasi dan Sertifikasi
Mempermudah pencapaian EDGE, LEED, dan Greenship. - Reputasi Perusahaan Lebih Baik
Menunjukkan komitmen nyata terhadap ESG dan keberlanjutan.
Prinsip Utama Green Procurement dalam Konstruksi
- Pemilihan Material Rendah Karbon
Mengutamakan semen rendah karbon, beton hijau, dan baja daur ulang. - Pengadaan dari Pemasok Lokal
Mengurangi emisi dari rantai logistik jarak jauh. - Sertifikasi Lingkungan
Memilih produk dengan EPD, ecolabel, atau standar hijau resmi. - Evaluasi Siklus Hidup Material
Mempertimbangkan dampak lingkungan dari produksi hingga akhir masa pakai. - Transparansi Rantai Pasok
Memastikan pemasok memiliki praktik produksi yang bertanggung jawab.
(Baca juga: Life Cycle Assessment dalam Konstruksi Berkelanjutan)
Contoh Penerapan Green Procurement di Proyek Konstruksi
- Proyek Gedung Hijau
Menggunakan beton ramah lingkungan dan kaca hemat energi. - Pabrik Semen Berkelanjutan
Mengutamakan bahan bakar alternatif dan pemasok bahan baku lokal. - Infrastruktur Publik
Material dipilih berdasarkan efisiensi umur pakai dan dampak lingkungan. - Kawasan Industri Hijau
Sistem pengadaan terintegrasi dengan target Net Zero Carbon.
Tantangan Implementasi Green Procurement
Beberapa tantangan dalam penerapan green procurement dalam konstruksi meliputi:
- Keterbatasan pemasok bersertifikasi
- Harga awal material hijau yang relatif lebih tinggi
- Kurangnya data lingkungan dari pemasok
- Perubahan kebiasaan dalam sistem pengadaan konvensional
Namun, tantangan ini dapat diatasi dengan kebijakan internal yang jelas, kontrak berkelanjutan, dan kolaborasi jangka panjang dengan pemasok hijau.
Tips Menerapkan Green Procurement secara Efektif
- Susun kriteria pengadaan berbasis lingkungan sejak tahap tender.
- Gunakan sistem penilaian pemasok berbasis ESG.
- Integrasikan green procurement dengan BIM dan LCA.
- Lakukan audit pemasok secara berkala.
- Edukasi tim procurement tentang material berkelanjutan.
Kesimpulan
Green procurement dalam konstruksi adalah fondasi penting untuk menciptakan proyek bangunan yang benar-benar berkelanjutan. Dengan strategi pengadaan yang tepat, dampak lingkungan dapat ditekan bahkan sebelum konstruksi dimulai.
Bagi kontraktor, developer, dan produsen material, green procurement bukan hanya tren, melainkan strategi jangka panjang untuk meningkatkan efisiensi, daya saing, dan keberlanjutan industri konstruksi di masa depan.


